Jan 9, 2013

Batu Dropa: Pesan Dari Ruang Angkasa

 9 Januari 2013

...mereka turun dari balik bintang-bintang.

Langit mendung menggantung rendah di lembah terpencil di sore hari pada musim gugur yang dingin. Puncak gunung sekitarnya telah ditutupi oleh awan tebal selama berhari-hari. Sebuah gemuruh kencang mengguncang tanah, membuat hewan berlarian dan burung beterbangan. Gemuruh dari atas awan semakin keras, gemuruh yang belum pernah terdengar sebelumnya.

Sekelompok kecil pemburu yang tengah mengamati rusa mengarahkan pandangan mereka ke langit, memperkirakan bakal ada petir yang menyambar dari sana. Kemudian sebuah cahaya terang meledak dari langit. Para pemburu menyadari itu sama sekali bukan petir. Mereka belum pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya. Sebuah bola bercahaya melesat melalui langit di atas kepala mereka saat mereka menyaksikan dengan bingung dan tak percaya. Bola itu bergetar dan berbelok karena jatuh, seolah-olah mencoba untuk melawan gravitasi dan berusaha agar tak menabrak tanah.

Para pemburu menyiapkan senjata mereka, tidak tahu ancaman seperti apa yang akan langit hadirkan kali ini. Tiba-tiba suara gemuruh berhenti, dan bola itu berbelok ke atas sedikit sebelum terbanting ke bumi. Para pemburu hampir saja terlempar karena kejadian tersebut, karena getarannya lumayan keras. Benda apapun itu, jaraknya tak begitu jauh dari mereka, mungkin bisa sampai di sana setelah satu jam berjalan kaki. Sebuah awan debu membumbung tinggi. Para pemburu kemudian berdebat, apakah mereka harus menyelidikinya atau tidak. Masing-masing dari mereka takut, tapi tidak ada yang mau mengakuinya. Erat mencengkeram senjata mereka, mereka memutuskan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka harus buru-buru, karena malam sudah dekat. Matahari sudah terbenam di belakang pegunungan pada saat mereka berjalan ke sana.

Kemudian, tampaklah benda itu di depan mereka. Suatu hal yang tak terlukiskan, setinggi setengah pohon dan merefleksikan cahaya dengan bentuk seperti batu, besar, basah, dan mengkilap. Para pemburu tidak bisa menemukan kata-kata untuk menjelaskannya - bentuk yang benar-benar asing bagi pengalaman mereka. Mereka menatapnya, ragu-ragu untuk bergerak lebih dekat. Lalu, muncul lubang di dekatnya ... dan sesuatu bergerak dari dalam sana.

Oke, jelas saya memfiksikan rincian dari cerita ini, tetapi yang akan saya ceritakan berikutnya adalah kisah nyata. Kisah Dropa. Penemuan yang mungkin sedikit berhubungan dengan cerita fiksi di atas.


Yang Ditemukan di Gua-Gua Itu

Kisah Dropa dimulai tahun 1938, di sebuah pegunungan Baian-Kara-Ula di perbatasan yang membagi Cina dan Tibet. Sebuah ekspedisi arkeologi, yang dipimpin oleh Chi Pu Tei, telah sampai ke pegunungan yang hampir tidak dapat diakses, dan telah menemukan di beberapa gua jejak-jejak yang jelas menunjukan telah diduduki oleh orang-orang primitif lama. Tapi dia dan timnya menemukan, di gua-gua terpencil itu, sesuatu yang lebih sangat tidak biasa dan, jika diteliti, bisa mengubah segala sesuatu yang kita ketahui tentang masa lalu kita.

Tidak semua fakta-fakta pada kasus ini jelas dan, seperti yang kalian akan mengerti nanti, sulit untuk diteliti. Beberapa rincian bertentangan, kabur, atau mungkin telah diceritakan secara berlebihan. Tetapi jika bagian dari cerita ini benar, ini merupakan salah satu penemuan terbesar zaman kita.

Chi Pu Tei, seorang profesor arkeologi di Universitas Beijing, memimpin beberapa murid-muridnya pada sebuah ekspedisi untuk meneliti rangkaian gua yang saling terhubung di pegunungan Himalaya. Menurut satu sumber, gua mungkin telah dibangun secara artifisial, dan lebih seperti sebuah sistem yang kompleks dengan terowongan dan gudang bawah tanah.

Di dalam beberapa gua yang kuno, ada semacam tempat pemakaman yang tersusun rapi, dan di dalamnya terdapat sisa-sisa kerangka dari orang-orang aneh. Kerangka tersebut berukuran empat kaki, dengan tengkorak berukuran besar. Pada awalnya, kerangka itu diperkirakan merupakan sisa-sisa spesies gorila gunung yang belum diketahui. Tapi Profesor Chi Pu Tei menimpali, "Siapa yang pernah mendengar kera mengubur satu sama lain?".


Semacam Piringan dan Tulisan Hieroglif

 Lebih lanjut, penemuan-penemuan ditemukan di seluruh gua tapi masih tidak menganggap bahwa ini adalah kera. Di dinding ditemukan gambar-gambar dari langit: matahari, bulan, bintang-bintang, dan bumi dengan garis titik-titik yang menghubungkan mereka. Kemudian tim menemukan penemuan yang paling luar biasa dari semuanya.

Setengah dikuburkan di lantai tanah gua, terdapat batu aneh berbentuk piringan, jelas dibentuk oleh tangan makhluk cerdas. Piringan tersebut berukuran sekitar sembilan inci dan diameter tiga perempat dari tebal inci. Tepat di tengahnya terdapat lubang bulat sempurna dan ukiran-ukiran spiral, membuatnya menjadi semacam piringan hitam primitif.

Piringan ini berumur antara 10.000 dan 12.000 tahun, jauh lebih tua jika dibanding dengan piramida besar dari Mesir. Cukup fantastis, tetapi keheranan tentangnya menjadi berlipat ganda. Secara keseluruhan, telah ditemukan 716 piringan. Dan di setiapnya, mempunyai rahasia yang menakjubkan. Garis-garisnya, setelah pemeriksaan lebih lanjut, bukan sekedar garis-garis biasa, tetapi ukiran aneh yang berbentuk tulisan hieroglif.

Karakter-karakter hieroglif yang sangat kecil tersebut hampir tidak pernah diteliti sebelumnya. Sampai tahun 1962, ilmuwan China yang lain mampu memecahkan kode pesan dari piringan batu itu, pesan yang begitu luar biasa dan menggemparkan dunia sampai-sampai Departemen Prasejarah dari Akademi Beijing melarang mempublikasikan terjemahannya. Tetapi akhirnya, pesan itu diterbitkan, dan apa yang tertulis di sana akan mengejutkan kalian.


Kode-kode yang Terpecahkan

Dr Tsum Um Nui merasakan halusnya permukaan piringan dengan telapak tangannya. "Apa yang mungkin bisa ditunjukan oleh piringan ini?", dia bertanya-tanya.

Dia tahu sejarahnya, bagaimana benda itu ditemukan pada tahun 1938 oleh seorang arkeolog Cina di sebuah gua tinggi di Himalaya, bersama dengan 716 piringan yang sama, bagaimana dikuburkan di dekat kerangka dari suku yang aneh dengan tinggi rata-rata empat kaki, bagaimana ditemukan bahwa setiap piringan bertuliskan alur kecil yang berputar di sekitar permukaan, dan bahwa alur itu ternyata adalah hieroglif.

Dia juga tahu bagaimana piringan tersebut bersama dengan temuan lain dari ekspedisi, disimpan di Beijing University selama 20 tahun. Selama waktu itu, orang lain telah berusaha untuk menguraikan misterinya, tetapi tidak berhasil. Mungkin sekarang, pada tahun 1962, dia bisa.


Sang profesor bersusah payah mentranskipsi karakter dari piringan tersebut ke sebuah kertas. Menulis karakter yang begitu kecil, dia harus menggunakan kaca pembesar untuk melihatnya dengan jelas. Tapi banyak dari hieroglif tersebut yang sulit untuk dikenali.

Saat ia bekerja, banyak pertanyaan yang tercetus di benak profesor. Bagaimana mereka membuat tulisan yang sangat kecil tersebut? Siapa mereka dan apa tujuan dari dibuatnya ratusan batu ini? Setelah karakter berhasil ditranskripsi, Dr Tsum Um Nui memulai tugas yang sulit, mencoba untuk memecahkan kode pesannya. Akhirnya, ia mulai membuat kemajuan. Sebuah kata muncul. Kemudian yang lain. Sebuah frase menjadi dimengerti, dan membentuk kalimat.

Dia telah memecahkan kodenya. Dia menyimpulkan bahwa pesan pada batu, ditulis oleh orang-orang yang menyebut diri mereka Dropa. Tapi apa yang mereka katakan kepadanya 12.000 tahun kemudian tidak masuk akal. Apa yang telah ditulis oleh Dropa harusnya merupakan salah satu budaya mitos mereka, atau merupakan bagian dari upacara keagamaan prasejarah mereka.


Hasil dan Larangan

Ketika ia telah menyelesaikan terjemahan sebanyak yang dia bisa, profesor duduk di kursinya tak percaya. Kisah Dropa ini sangat luar biasa. Bagaimana kira-kira rekan-rekannya nanti bereaksi? Bagaimana mungkin dunia bereaksi jika cerita ini benar? Profesor menyajikan tulisannya dan menyerahkannya pada universitas untuk dipublikasi. Namun reaksi cepat pihak universitas secara tegas mengatakan: karya ini tidak akan dipublikasikan. The Academy of Prehistoric tegas melarang dia untuk mempublikasikan atau bahkan berbicara tentang temuannya itu. Dunia tidak harus tahu tentang Dropa dan perjalanan mereka ke Bumi.

Namun temuan Dr Tsum Um Nui itu akhirnya diterbitkan. Hanya dua tahun kemudian, ia menerbitkan makalah berjudul, "The Grooved Script Concerning Spaceships Which, as Recorded on the Discs, Landed on Earth 12,000 Years Ago.". Pada kasus ini, terjemahan dan teorinya menerima ejekan dan cemoohan dari para arkeolog. Terjemahan itu terlalu aneh untuk diterima oleh norma dan catatan sejarah. Itu tidak mungkin benar. Dan hal itu akan mengubah segalanya yang kita tahu tentang sejarah dan tempat manusia di alam semesta.


Yang Diceritakan dan Ketidakpercayaan

Batu Dropa bercerita tentang sebuah pesawat ruang angkasa dari planet yang jauh yang mengalami kecelakaan dan mendarat di Baian-Kara-Ula, pegunungan Himalaya. Penumpang pesawat ruang angkasa tersebut, yang disebut Dropa, berlindung di gua-gua pegunungan. Meskipun niat mereka hendak berdamai, namun suku Ham, pribumi, tak mengerti dan malah menyerang dan memburu para alien itu dan bahkan membunuh beberapa dari mereka.


Sebuah terjemahan dari salah satu bagian mengatakan: "Dropa turun dari atas awan menggunakan pesawat ruang angkasa. Bangsa kami, laki-laki, perempuan, dan anak-anak, bersembunyi di gua-gua sebanyak sepuluh kali sebelum matahari terbit. Ketika akhirnya mereka mengerti bahasa isyarat dari Dropa, mereka menyadari bahwa kami memiliki niat damai...."

Batu-batu Dropa mengatakan bagaimana Dropa tidak dapat memperbaiki pesawat ruang angkasa mereka yang rusak dan tidak bisa kembali ke planet asal mereka, lalu kemudian terdampar di Bumi. Jika itu benar, berarti mereka memiliki keturunan yang selamat?

Saat ini, pada suatu daerah terpencil yang dihuni oleh dua suku terdapat orang-orang yang, pada kenyataannya, menyebut diri mereka Dropa dan Han. Para antropolog tidak mampu mengkategorikan mereka suku apa, karena mereka bukan suku Cina maupun Tibet. Kedua suku ini bertubuh kerdil, orang dewasa berukuran antara 3 sampai 6 kaki dan 4 sampai 7 kaki dengan ketinggian rata-rata 4 sampai 2 kaki, dan memiliki berat tubuh dari 38 sampai 52 pon. Mereka berkulit kuning dengan badan kurus dan kepala tidak proporsional, sesuai dengan kerangka yang ditemukan di gua-gua tahun 1938. Mereka memiliki rambut tipis di tubuh mereka dan memiliki mata yang besar tidak seperti orang asia kebanyakan, tetapi memiliki iris biru pucat.


Penutup

Pada tahun 1968, batu Dropa menarik perhatian W. Saitsew, seorang ilmuwan Rusia yang kembali menerbitkan temuan Tsum Um Nui dan melakukan tes pada piringan yang mengungkapkan beberapa sifat yang sangat aneh. Secara fisik, batu granit tersebut mengandung konsentrasi tinggi logam kobalt dan lainnya. Batu yang sangat keras memang, yang akan membuat kesulitan orang-orang primitif yang mengukir huruf tersebut di permukaannya, terutama dengan karakter yang kecil. Ketika pengujian piringan dengan osilograf, sebuah ritme osilasi mengejutkan tercatat seolah-olah, para ilmuwan mengatakan, mereka dulu pernah bermuatan listrik atau telah berfungsi sebagai konduktor listrik.

Apapun sifat sejati mereka, batu Dropa telah menyajikan teka-teki menarik untuk arkeolog dan antropolog. Apakah Dropa benar-benar pengunjung dari planet yang jauh, atau cerita mereka hanyalah mitos penciptaan yang dibayangkan oleh budaya primitif? Jika yang terakhir ini benar, itu menambah satu lagi seperti mitos di sejumlah besar cerita dari kebudayaan kuno yang mengklaim keturunan mereka datang ke bumi dari langit. Dan jika yang pertama benar, batu Dropa bisa mewakili kunjungan tercatat pertama dari peradaban alien ke planet kita.



Sumber: paranormal.about.com


No comments:

Post a Comment